Jumat, 14 Oktober 2016

Syair Husain bin Abdurrahman

Wisata orang mukmin itu adalah berpikir
kenikmatan orang mukmin itu pelajaran
Kita hanya memuji Aloh semata
setiap kita berada dalam bahaya
berapa banyak orang yang tengah menghibur diri
padahal umurnya telah habis namun ia tidak menyadari
berapa banyak suatu kehidupan yang ndah
dan bertaburkan bunya yang tidak bisa dibayangkan
Dalam gemercik air
dan keteduhan pepohonan
Kenyamanan dengan berbagai macam tanaman
dan buah-buahan yang lezat
Semua itu diubah dan juga pemiliknya
oleh perguliran masa yang cepat dengan perubahannya
Kita memuji hanya kepada Alloh
sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran
bagi orang yang berakal jika mau mengambil pelajaran


Dan seorang arif berkata, "Seandainya hati orang-orang yang bertakwa itu, dengan pikirannya mampu mengetahui kebaikan akhirat yang ditakdirkan didalam hijab kegaiban, niscaya tidak dapat dinyatakan mereka memiliki suatu kehidupan di dunia ini dan tidak ada yang dapat membahagiakan pandangan mereka."

Semoga kita selalu dalam bimbinganNya untuk dapat menggunakan akal, pikiran dan perasaan sesuai dengan kehendakNya. amin.....

Kamis, 13 Oktober 2016

Tafakkur (Memikirkan)

Penulis kamus Lisanul Arab mengatakan tentang suku kata fakara, fakr dan fikr (mempergunakan akal dalam sesuatu).  Fikrah :  seperti fikr, fakara, afkara dan tafakkara, semua kata tersebut memiliki art yang sama, yaitu berpikir atau memikirkan dan fakara fisy-sya'i artinya memikirkan tentang sesuatu.  Orang fakkir : fasiq, fakir (orang yang banyak berpikir).  Jauhari berkata, tafakkur sama dengan ta'amul (mencermati).  Bisa disebut dengan fikr dan fikrah.  Kata dasarnya fakr.

Dalam buku mufradat Al-Qur'an disebutkan, "Kekuatan yang mampu memicu pengetahuan menjadi ilmu yang diketahui".  Tafakkur adalah perguliran kekuatan sesuai dengan pandangan akal.  Itu terjadi pada manusia dan tidak terjadi pada binatang, serta tidak mungkin dinyatakan kecuali pada apa yang mungkin dapat diperoleh gambarannya di dalam hati.  Maka dari itu, di dalam sebuah riwayat dikatakan "Pikirkanlah tentang nikmat-nikmat Alloh dan jangan memikirkan tentang Zat Alloh, sebab Alloh Mahasuci dari gambaran yang dapat diungkapkan".

Alloh swt, berfirman,


(8). أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗمَا خَلَقَ الَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۗوَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Ar-Rum (30):8)


Rajulun fakkir artinya orang yang banyak pemikiran.  Seorang sastrawan berkata, kebalikan dari kata fakr (menggosok, menggaruk) tetapi fakr digunakan dalam segi makna.  Yaitu memecahkan dan membahas perkara agar sampai pada hakikatnya.

Semoga bermanfaat, amin....

@2016: dikutip dari buku "tidakkah kalian berpikir?" #syekh abdul aziz bin nashir al-jalil.